Rasulullah SAW bersabda ; “Barangsiapa yang masih hidup di antara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barangsiapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian”. (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah) Setelah Nabi SAW dan para sahabat kembali dari Perang Khandaq, Malaikat Jibril datang menemuinya dan menyampaikan perintah Allah SWT agar beliau dan pasukannya menuju perkampungan Bani Quraidhah. Beliau pun berangkat ke sana. Sebelum keberangkatan, Nabi SAW memerintahkan para sahabat untuk tidak melaksanakan shalat Ashar sebelum sampai di perkampungan tersebut. “Janganlah ada seorang pun melakukan shalat Ashar kecuali setelah sampai di Bani Quraidhah”.

Di tengah perjalanan, tibalah waktu shalat Ashar. Para sahabat berbeda pendapat atas perintah Nabi SAW tersebut. Sebagian dari mereka “mengabaikan” perintah tersebut. Menurut mereka, “Sesungguhnya beliau menghendaki kita mempercepat perjalanan dan bukannya mengundurkan waktu shalat”. Sebagian yang lain tetap berpegang pada nash (teks) yang terucap oleh Nabi (memahaminya secara harfiyah). Mereka tidak melakukan shalat. “Kami tidak akan shalat sehingga kami sampai di sana,” kata mereka.

Terjadinya perbedaan pendapat tersebut kemudian dilaporkan kepada Nabi. Ternyata, beliau mendiamkan hal itu, tidak mengecam ataupun menegur salah seorang pun di antara mereka. Kisah yang dikutip dari Fiqhus Sirrah karya Muhammad Sa’id Al-Buthy tersebut, menunjukkan pada kita, perbedaan pendapat (khilafiyah, ikhtilaf) di kalangan umat Islam, tidak saja terjadi pada masa sepeninggal Nabi atau masa kini.

Bahkan, ketika Nabi masih hadir di tengah-tengah umat pun, hal itu terjadi. Lebih penting lagi, perbedaan pendapat itu ditolerir oleh Nabi SAW. Menurut Yusuf Qardhawi (1995:151), sikap diam Nabi SAW dalam kisah di atas menunjukkan bahwa suatu perbuatan jika disempurnakan atas dasar ijtihad, tidaklah layak untuk dikafirkan atau dianggap dosa. Mengutip pendapat Ibnu Qayim, Qardhawi menyatakan, kelompok pertama (yang melakukan shalat) atau berpegang pada kandungan ucapan Nabi, adalah para pendahulu ahli qiyas serta mementingkan arti (maksud). Sedangkan kelompok kedua (yang tidak shalat) memahami secara tekstual ucapan Nabi adalah pendahulu ahli Dzhahir (berpegang pada susunan kalimat secara harfiyah). Saat ini pun umat Islam terbagi dua kelompok dalam memahami Nash Alquran ataupun hadits, utamanya yang berkenaan dengan masalah furu’iyyah (cabang). Sebagaimana diprediksi Nabi SAW dalam hadits tersebut di atas.

Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Kita, yang tidak sanggup berijtihad sendiri, boleh ittiba’, yakni mengikuti pendapat mana saja sesuai keyakinan dan pemahaman kita sendiri, disertai pengetahuan dan pemahaman akan landasan tiap pendapat. Taklid buta atau asal pilih, ikut-ikutan, tanpa mengetahui dan memahami alasannya, dilarang. (Lihat QS 17:36).

Perbedaan pendapat di kalangan umat merupakan sunnatullah yang tak terhindarkan. Al-Qardhawi menyatakan, perbedaan pendapat selalu ada dalam tabiat manusia. Menurutnya, perbedaan pendapat dalam perkara furu’ merupakan kenyataan yang tak dapat ditolak. Dan hal itu tidaklah menimbulkan kerugian dan bahaya, selama berlandaskan ijtihad syar’i yang benar. Hal itu justru menjadi rahmat bagi umat, menunjukkan fleksibilitas dalam syariat, dan keluasan dalam ilmu dan pengetahuan. Para sahabat dan para tabi’in pun, lanjut Qardhawi, sering berselisih pendapat dalam berbagai hukum furu’. Tetapi hal itu tidak sedikit pun merugikan mereka, dan tidak pula meretakkan persaudaraan dan persatuan mereka.

Qardhawi mengingatkan, perbedaan pendapat pada dasarnya tidak berbahaya, selama diiringi dengan sikap tasamuh (toleran), wawasan yang luas, serta bebas dari fanatisme atau kepicikan pandangan. Adanya perbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengakibatkan, antara lain, timbulnya berbagai aliran dan mazhab.

Dalam bidang akidah atau teologi timbul aliran-aliran: Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah. Dalam fikih atau hukum Islam muncul mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Dalam bidang politik muncul aliran Sunni, Syi’ah, dan Khawarij. Dalam tasawuf tampil aliran Al-Ghazali, Al-Farabi, dan Ibnu Rusyd.

Untuk ber-ittiba’ tinggal pilih pendapat mana yang hendak diikuti dengan penuh kesadaran, pengetahuan, sikap kritis, dan pemahaman yang cukup. Artinya, dalam memilih, kita pun harus memiliki alasan dan pemahaman, karena di akhirat nanti yang akan mempertanggungjawabkannya kita sendiri.

Dalam menyikapi perbedaan pendapat, seyogyanya diperhatikan sikap toleran, lapang dada, serta tidak merasa paling benar, apalagi sampai menyalahkan pendapat yang lain. Karena kebenaran sepenuhnya milik Allah SWT. DIA-lah yang paling berhak menentukan mana yang benar dan salah. Terlebih, sikap merasa paling benar dan menyalahkan yang lain, dapat merusak ukhuwah Islamiyah. Perbedaan pendapat adalah realitas tak terelakkan dan bukan untuk menyebabkan perpecahan umat Islam. Dan kita pun tak mungkin dapat menghapuskan perbedaan pendapat itu. 

Idealnya, kita selalu mendasarkan pendapat dan argumen pilihan pada nash Alquran dan Sunnah Nabi, bukan pada kepentingan pribadi dan kelompok yang sifatnya duniawi atau material. Jika kepentingan ekonomi dan politik yang lebih dominan melatarbelakangi pendapat, maka tunggulah kenistaan dan kehancuran. Jika agama hanya digunakan sebagai alat meraih dukungan atau kepentingan politik, maka kita terjerumus ke jurang kemunafikan dan mengundang murka-Nya. Mari kita sadari, wahai saudaraku jika kita sama-sama mencita-citakan ridha Allah, pasti kita akan bersatu, seperti sering kita tunjukkan ketika shalat berjamaah. Maka, “shawwuu shufuufakum …! Rapatkan dan luruskan barisan kalian!”  Wallahu a’lam Bisshowaab.